Trump Sebut AS Ikut Selidiki Hilangnya Wartawan Saudi, Turki Bantah

Trump Sebut AS Ikut Selidiki Hilangnya Wartawan Saudi, Turki Bantah

Trump Sebut AS Ikut Selidiki Hilangnya Wartawan Saudi, Turki Bantah

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim para penyidik AS kini tengah bekerja sama dengan Turki dan Arab Saudi dalam menyelidiki hilangnya wartawan Saudi, Jamal Khashoggi. Klaim ini dibantah oleh sumber diplomatik Turki.

“Kita tidak bisa membiarkannya terjadi. Dan kita sangat keras dan kita memiliki sejumlah penyidik di sana dan kita bekerja bersama Turki dan jujur saja, kita bekerja bersama Arab Saudi,” sebut Trump dalam wawancara dengan program televisi ‘Fox and Friends‘ seperti dilansir AFP, Jumat (12/10/2018).

Saat ditanya apakah kasus Khashoggi ini membahayakan hubungan AS dan Saudi, Trump menjawab: “Saya harus mencari tahu apa yang terjadi.”

“Kita mungkin lebih dekat daripada yang Anda bayangkan,” imbuh Trump, merujuk pada perkembangan kasus Khashoggi.Dalam pernyataan terpisah kepada kantor berita Turki, Anadolu Agency, sejumlah sumber diplomatik Turki membantah klaim Trump itu. “Informasi yang menyebut bahwa AS menunjuk seorang penyidik adalah tidak benar,” tegas sejumlah sumber diplomatik Turki yang tidak bisa disebut namanya karena dilarang bicara ke media.

Sementara itu, saat ditanya soal klaim Trump itu, Biro Investigasi Federal AS atau FBI enggan berkomentar.

Khashoggi (59) menghilang sejak masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu, untuk mengurus dokumen penting agar bisa menikahi tunangannya asal Turki, Hatice Cengiz. Sang tunangan yang menunggu di luar Konsulat Saudi saat itu, menyatakan Khashoggi tidak pernah keluar.

Otoritas Saudi menyebut Khashoggi telah keluar sesaat usai masuk ke dalam konsulat. Namun otoritas Turki dan Cengiz bersikeras Khashoggi masih ada di dalam Konsulat Saudi. Dugaan dilontarkan otoritas Turki yang menyebut Khashoggi yang pengkritik keras kebijakan Saudi ini dibunuh di dalam konsulat. Tudingan itu dibantah keras oleh otoritas Saudi yang menyebutnya sebagai ‘tuduhan tak berdasar’. Disebutkan juga oleh otoritas Turki bahwa pihaknya tengah menyelidiki dugaan keberadaan tim khusus dari Saudi beranggotakan 15 orang yang terbang ke Istanbul untuk menghabisi Khashoggi. Orang-orang itu masuk ke Konsulat Saudi pada waktu nyaris bersamaan dengan Khashoggi dan pergi meninggalkan Turki pada hari yang sama.

Sementara itu, The Washington Post dalam laporannya mengutip hasil penyadapan intelijen AS menyebut putra mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, pernah memerintahkan sebuah operasi untuk menjebak Khashoggi. Diketahui bahwa Khashoggi yang kolumnis The Washington Post ini memang tinggal di wilayah AS, setelah mengasingkan diri dari Saudi. Belum ada tanggapan dari Saudi terkait laporan tersebut.