Punya Armada Terbanyak, Lion Air Kuasai Penerbangan Indonesia

Punya Armada Terbanyak, Lion Air Kuasai Penerbangan Indonesia

Punya Armada Terbanyak, Lion Air Kuasai Penerbangan Indonesia

Kabar duka dari sektor penerbangan Indonesia mewarnai awal pekan ini. Pesawat dari salah satu maskapai ternama Indonesia, Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di perairan Karawang pada Senin kemarin.

Maskapai berlogo singa merah itu tengah dirundung masalah kepercayaan publik saat ini. Lion Air sendiri telah memiliki sederet catatan buruk di sektor penerbangan. Mulai dari tergelincir, ledakan di bagian belakang pesawat, hingga pesawat jatuh saat mengudara.

Dari catatan , sejak Februari 2011, Lion Air telah mengalami 6 kali kecelakaan teknis hingga saat ini. Yang terparah ialah insiden jatuhnya Boeing 737-8 Max yang membawa 189 orang pada Senin kemarin.Walau banyak memiliki catatan negatif, namun Lion Air sendiri menjadi salah satu maskapai yang menguasai sektor penerbangan Indonesia. Sebut saja soal jumlah armada yang dimiliki. Saat ini, Lion Air diketahui memiliki sekitar 350 armada dengan berbagai jenis pesawat.

“Total armada kami 350-an sekarang,” kata Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait kepada detikFinance, Selasa (30/10/2018).

Jumlah armada Lion Air tersebut bahkan lebih banyak dari armada pesawat milik Garuda Indonesia. Berdasarkan situs resmi Garuda Indonesia, hingga tahun 2017 maskapai tersebut memiliki 144 pesawat. Jika ditambah dengan Citilink Indonesia, maka jumlahnya kini mencapai 202 pesawat.

Lion Air memang cukup getol memborong pesawat. Lion Air tercatat kerap melakukan kontrak pembelian sejumlah pesawat dengan berbagai pihak. Lion Air Group sendiri sebenarnya masih akan mendatangkan pesawat generasi terbaru dari pabrikan yang sama yakni Boeing.

Sedikit berbeda dengan jenis pesawat yang mengalami insiden itu, Lion membeli generasi terbaru, yakni 737 MAX 10. Tak tanggung-tanggung, Lion Air membeli 50 pesawat.

Dari catatan , Lion Air Group merogoh kocek US$ 6,24 miliar atau setara Rp 84,2 triliun demi mendapatkan Boeing 737 MAX 10. Angka itu dihitung berdasarkan nilai dolar saat perjanjian pembelian yang diteken pada April 2018 yakni Rp 13.500.Edward Sirait mengatakan dana pembelian 50 pesawat 737 generasi terbaru ini 100% menggunakan dana pinjaman dari perbankan alias utang. Dia bilang, pinjaman dari Bank Exim Amerika merupakan hasil negosiasi tim Lion Air Group. Adapun, bunga yang disepakati pun rendah.

“Dana dari perbankan, semua dari Exim Amerika, totalnya itu dari 50 pesawat itu kalau katakan US$ 60 juta ya itu totalnya US$ 6,24 miliar,” kata Edward di Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (10/4) lalu.

Jika melihat ke belakang, dalam tiga tahun Lion Air pernah menghabiskan dana hingga sebesar Rp 595 triliun untuk membeli pesawat. Pada 18 November 2011
Lion teken kontrak pembelian 230 Boeing 737, senilai $21,7 miliar atau Rp 282 triliun. Penandatanganan dilakukan di sela-sela acara KTT ASEAN, di Bali, disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Barack Obama.

Kemudian pada Maret 2013
, Lion Air kembali teken kontrak pembelian 234 Airbus A320 dan A321 senilai $24 miliar atau sekitar Rp 312 triliun. Penandatanganan jual beli dilakukan di Istana Kepresidenan Elysee, disaksikan Presiden Perancis Francois Hollande.

Lalu pada Pada November 2014, Airbus mengirimkan tiga unit pertama A320 pesanan Lion Air Group. Pengiriman awal ini diperuntukkan bagi anak usaha Lion Air Group yaitu Batik Air. Pada November 2014, Lion Air Group juga mengikat kontrak pembelian 40 unit pesawat turboprop baru jenis ATR72. Nilai total pembelian pesawat jet tersebut menyentuh angka $ 1 miliar.

Adapun armada pesawat yang dimiliki Lion Air Group itu beragam tipenya. Ada Airbus A320 CEO, Airbus A330, B-737-800, B-737-900ER, B-737MAX 8, B-737MAX 9, serta B-737MAX 10. Selain itu, Lion Air Group juga memiliki pesawat jenis ATR72-500 sebanyak 19 unit dan 53 unit pesawat jenis ATR72-600.

Namun sayang, banyaknya jumlah armada dari Lion Air Group tersebut justru tak diiringi dengan tingkat kepercayaan dari publik yang tinggi. Hal itu tak terlepas dari sikap manajemen yang kerap membuat konsumen kecewa.

Rentetan kejadian tak mengenakan sering dialami penumpang Lion Air. Contohnya seperti pada kasus yang tak mendapatkan kursi atau tempat duduk, mendarat darurat, bagasi hilang, hingga masalah delay berjam-jam. Menguasai banyak armada pesawat saja sepertinya tak cukup bagi Lion Air untuk menarik kepercayaan konsumen