Mimpi Bawah Laut Pahawang

Untitled-1

PANTAI damai, berpasir putih lembut, dengan air laut yang berwarna biru cerah adalah pemandangan yang selalu dirindukan para pejalan.

Namun, untuk menggapai pantai yang diimpikan ini tidak mudah karena umumnya ada wilayah Indonesia Timur. Jangan khawatir, pantai seperti itu juga bisa ditemui di kawasan Teluk Lampung.

Letaknya yang berada di tengah-tengah membuat destinasi ini mudah dijangkau, baik dari Pulau Sumatera maupun dari Pulau Jawa.

Teluk Lampung mempunyai banyak spot untuk melakukan wisata bahari, seperti bermain di pantai, snorkeling, menyelam, bahkan bermain bersama lumba-lumba.

Sejumlah spot wisata ini masih belum banyak yang mengeksplor karena memang terbilang baru dibuka. Tidak banyak yang tahu kalau Teluk Lampung mempunyai pesona laut seperti di Indonesia Timur.

Memang tempat snorkeling dan selamnya mungkin tidak sebagus Raja Ampat, Labuan Bajo, Wakatobi, atau Selayar. Namun, dengan jarak yang begitu dekat, cukuplah bagi warga di Jawa dan Sumatera yang ingin mencicip wangi laut sejenak.

Salah satu tempat yang patut dikunjungi untuk menyegarkan diri adalah Pulau Pahawang, Lampung. Liburan di Pulau Pahawang bisa dilakukan hanya dalam satu hari jika memang tidak punya banyak waktu. Atau jika di akhir pekan, juga bisa tiga hari dari Jumat-Minggu.

Bagi warga Jakarta dan sekitar Lampung, ke Pahawang bisa dilakukan hanya satu hari karena saat ini sudah tersedia penerbangan dari Jakarta pada pagi hari dan kembali ke Jakarta pada malam hari.

Maskapai Garuda Indonesia melayani penerbangan Jakarta-Lampung sebanyak tujuh kali sehari. Belum lagi maskapai penerbangan lain. Jadi akses untuk ke Lampung bisa sangat cepat karena tidak perlu lagi naik kapal feri menyeberang di Merak-Bakauheni.

Jadwal penerbangan Garuda Indonesia yang paling pagi adalah pukul 05.55. Baru 30 menit di udara, pesawat sudah mendarat lagi di Bandara Radin Inten II, Bandar Lampung.

Bagi pelancong yang ingin lebih cepat menuju Pahawang bisa memesan mobil dulu melalui internet. Harga sewa mobil cukup terjangkau, antara Rp 700.000 dan Rp 800.000 dari pagi hingga malam.

Namun, bagi pelancong yang lebih ingin merasakan sensasi dengan angkutan umum, pelancong bisa menggunakan angkot warna coklat dari bandara ke Terminal Rajabasa.

Pelancong tidak perlu sulit menghafal nomor angkot di Bandar Lampung karena angkot di sana dibedakan berdasarkan warna.

Dari Terminal Rajabasa, pelancong bisa mengambil angkot warna biru telur asin dan turun di Stasiun Tanjung Karang. Dari sana, sambung lagi dengan angkot Ungu terung hingga ke Teluk Betung. Semua angkot ini tarifnya sama, yakni Rp 5.000.

Jadi, dari bandara hingga ke Teluk Betung, biayanya Rp 15.000 per orang. Dari Teluk Betung, perjalanan masih dilanjutkan dengan mobil pikap yang merupakan angkutan desa.

Tarif untuk angkutan desa ini lebih mahal, yakni Rp 15.000 per orang. Dan harus diingat, angkutan desa hanya beroperasi sampai pukul 17.00.

Ketika kami menjajal perjalanan satu hari ke Pahawang, kami menyewa mobil Elf yang berkapasitas 15 orang. Rombongan kami terdiri atas wartawan yang diundang Telkomsel untuk peresmian jaringan 4G di semua kabupaten di Sumatera.

Kami ingin membuktikan, perjalanan ke Pahawang bisa dilakukan dalam satu hari dan tidak mengganggu acara utama kami.

Wisata bahari

Perjalanan kami dari Lampung ke Pahawang memakan waktu tidak sampai tiga jam. Ketika keluar dari Bandara Radin Inten II pukul 07.00, kami menyempatkan diri makan di rumah makan padang Bagadang.

Terpaksa kami makan berat pada pagi hari karena kami tidak menemukan warung atau rumah makan yang lain.

Pukul 09.30 kami sampai di Pelabuhan Ketapang dan memilih peralatan snorkeling dari salah satu operator wisata yang ada di sekitar pelabuhan.

Untuk biaya snorkeling dan wisata bahari, operator menyediakan beberapa paket. Kita tinggal memilih paket yang cocok.

Untuk paket satu hari sudah termasuk sewa alat snorkeling dikenakan Rp 150.000-Rp 250.000 per orang. Biaya ini sudah termasuk sewa perahu dan mendatangi beberapa spot.

Jika ingin menggunakan kapal cepat (speedboat), sehingga perjalanan menuju Pahawang lebih cepat, juga tersedia.

Dalam perjalanan satu hari itu kami menuju dua titik snorkeling, yakni di Cukuh Bedil dan di Taman Nemo, Pahawang.

Yang menarik di Cukuh Bedil adalah ada tempat duduk dan televisi buatan di dasar laut. Ini bisa dijadikan spot untuk foto.

Kami pun tidak ketinggalan, ingin difoto di bawah laut. Pelampung kami lepas, dan kami meluncur ke dasar dalam hitungan detik.

Fotografer dari operator wisata telah menunggu di bawah, dan langsung memotret kami. Kami cukup sanggup menahan napas karena kedalaman di spot ini hanya 2 meter-4 meter.

Spot kedua yang kami kunjungi adalah Taman Nemo, di dekat Pulau Pahawang. Di dekat taman ini juga ada Pulau Pasir Timbul yang menghubungkan Pulau Pahawang Besar dengan Pulau Pahawang Kecil.

Jika laut sedang surut, pulau ini akan timbul berupa hamparan pasir putih. Namun, jika laut sedang pasang, pulau pasir ini menghilang.

Di Taman Nemo, beragam ikan warna-warni berenang wira-wiri. Bahkan, ikan badut pun juga banyak ditemukan di Taman Nemo karena di tempat tersebut dibudidayakan terumbu karang hidup.

Terumbu karang, termasuk anemon rumah ikan badut, tidak tumbuh di Taman Nemo. Mereka diambil dari Teluk Kiluan, dan dikembangkan di Pulau Pahawang. Hasilnya, terumbu karang semakin banyak dan ikan-ikan karang pun berkembang biak dengan baik.

Teluk Kiluan yang merupakan bagian dari Teluk Lampung adalah spot migrasi lumba-lumba. Jika wisatawan ingin bermain dengan lumba-lumba, wisatawan harus bangun pagi karena lumba-lumba hanya bisa ditemui pada pukul 06.00 sampai pukul 10.00.

Selesai bermain dengan ikan warna-warni, kami menuju Desa Suwak Buah di Pulau Pahawang Besar.

Di rumah Ny Emi, makan siang kami sudah terhidang. Menunya adalah ikan bakar dan cumi bakar. Ditambah sayur asem, lalapan, tempe goreng, dan sambal yang superpedas.

Di sekitar Pulau Pahawang Besar tersebar vila-vila apung yang bisa disewa dengan harga Rp 1,5 juta untuk 24 jam. Namun, harga sewa ini belum termasuk makan.

Jika ingin makan, bisa memasak sendiri atau memesan dari nelayan sekitar dengan harga Rp 50.000 per orang setiap kali makan.

Seusai makan siang, kami pun segera kembali ke Pelabuhan Ketapang, dan siap kembali ke Lampung. Jika ingin segera kembali ke Jakarta, bisa langsung menuju bandara karena saat itu masih pukul 15.00. Dan penerbangan terakhir dari Lampung adalah pukul 19.00.

Kami tidak segera pulang karena acara utama kami baru dilakukan keesokan harinya. Lagi pula, kami ingin merasakan nasi uduk yang menjadi salah satu favorit makanan di Lampung.