Menyaksikan Ponsel Huawei Disiksa di Beijing

Menyaksikan Ponsel Huawei Disiksa di Beijing

Huawei memiliki cara tersendiri dalam menguji ketahanan dan kualitas telepon seluler yang diproduksinya sebelum dijual ke pasaran. Uji tersebut dilakukan di laboratorium pusat penelitian dan pengembangan produk atau Research and Development (R&D).

Huawei sendiri memiliki 284 laboratorium R&D dan 367 tempat tes perangkat dengan total luas 58.399 persegi. Di China, labaoratorium dan tempat tes ini berada di Beijing, Shanghai, Xian, dan Wuhan.

Pada Kamis (5/7/2017) kemarin, Kompas.com bersama jurnalis dan pegiat media sosial lainnya berkesempatan berkunjung ke laboratorium R&D di Beijing, ibu kota China. Acara APAC Media China Trip 2018 tersebut bertujuan untuk memperlihatkan fasilitas-fasilitas laboratorium yang dimiliki Huawei untuk menguji kualitas ponsel yang diproduksinya.

Namun selama tur kunjungan tersebut, tidak boleh ada dokumentasi di dalamnya. Sehingga foto-foto fasilitas R&D Huawei tidak bisa ditayangkan di sini.

Huawei memiliki lima fasilitas pengujian ponsel, yakni Automatic Test, Communication Test Lab, Realibility Lab, Antenna Lab dan Audio Lab. Semua fasilitas tersebut ditangani oleh mesin dan sedikit campur tangan manusia.

Misalnya, Automatic Test, adalah alat pengujian perangkat lunak ponsel Huawei. Alat ini digunakan untuk memastikan perangkat lunak di dalam ponsel bekerja dengan baik. Ada sejumlah layar monitor untuk memantau apakah bagian dalam ponsel itu bekerja dengan baik.

Salah satu pemandu menunjukkan contoh pengujian perangkat lunak ponsel. Salah satunya adalah tes fitur auto-rotate di ponsel.

Halaman depan gedung Lab R&D Huawei di Beijing, Halaman depan gedung Lab R&D Huawei di Beijing, China.

Tes lainnya adalah menguji fungsi jaringan 2G, 3G, 4G dan CDMA. Tes ini dilakukan di Communication Test Lab. Di laboratorium yang luas ini terdapat deretan mesin dan alat uji coba komunikasi. Berbagai jaringan dari operator di seluruh dunia diuji di laboratorium ini, di antaranya Docomo, AT&T, LG dan Tele2.

“Tes ini untuk memastikan perangkat Huawei bisa mengakses jaringan global sehingga penggunannya bisa mengeksplorasi dunia,” kata seorang pemandu.

Lalu tes fisik ponsel. Tes ini menjadi salah satu bagian penting dari uji tahan banting sebuah ponsel. Alat pertama yang ditunjukkan adalah mesin untuk memasukkan dan menguji jack audio.

Pemandu menyebutkan mesin ini bekerja selama 10.000 kali hanya untuk memasukkan dan mengeluarkan audio jack. Hal itu untuk menguji apakah audio ponsel masih bekerja dengan baik meski jack dicopot dan dipasang berkali-kali.

Lalu alat tes selanjutnya adalah untuk menguji ketahanan dan kelenturan ponsel. Mesin ini memelintir ponsel dengan menjepit kedua ujungnya. Hal ini dilakukan berkali-kali.

Lalu ada pula mesin yang menekan ponsel. Perangkat diletakkan di sebuah kain lalu ditekan di bagian tengahnya. Ini dilakukan untuk menguji kelenturan ponsel.

Mesin uji fisik ponsel selanjutnya adalah terbilang ekstrem. Ada dua alat yang digunakan, yakni satu berbentuk kotak berbentuk balok. Ponsel dimasukkan ke dalam kotak tersebut. Lalu kotak itu memutar yang menyebabkan ponsel terbanting berkali-kali.

Alat kedua adalah drop test. Ponsel dijepit mesin mirip tangan. Lalu dijatuhkan dari atasĀ  setinggi sekitar 1,5 meter. Tes ini untuk menguji daya tahan ponsel saat dijatuhkan dari atas.

Ponsel Huawei juga diuji di Lab Antena. Tes ini untuk melihat kemampuan ponsel menangkap sinyal, yakni jaringan seluler, bluetooth, wifi, hotspot portable dan lainnya.

Close up ketiga kamera di punggung Huawei P20 Pro. Di sisi tengah adalah kamera utama dengan resolusi 40 megapiksel (quad bayer array, resolusi normal 10 megapiksel) berlensa 27mm f/1.8. Di sisi kanan adalah kamera telephoto 8 mgepiksel berlensa 80mm f/2.4 OIS. Sementara, di sisi kiri yang berdiri sendiri adalah kamera monokrom 20 megapiksel berlensa 27mm f/1.6. Hanya kamera telephoto yang dilengkapi peredam goyangan (OIS), tapi Huawei menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meredam goyangan di sejumlah mode foto kamera utama.

Dalam tes ini, ponsel dimasukkan ke sebuah ruangan kubus yang di dalamnya terdapat busa berbentuk meruncing mirip duri. Busa duri ini berfungsi menyerap sinyal. Ponsel diletakkan di tengah ruangan.

“Agar daya tangkap sinyal ponsel bagus, jangan menggunakan casing dari metal dan jangan menyentuh sudut bawah ponsel ketika menelepon,” kata pemandu.

Ruang lab lainnya adalah untuk menguji fungsi audio. Ruangan ini berbentuk kubus kedap suara. Terdapat dua ruangan uji audio. Salah satunya adalah untuk simulasi mikrofon dan sepaker ponsel.

Salah satu ruangan dilengkapi 8 speaker yang ditempatkan di setiap sudut. Ruang ini untuk menguji kinerja speaker dan mikrofon agar tetap berfungsi dengan baik meski di tengah kebisingan.