Menguak Alasan RI Terpaksa Impor Jagung saat Surplus

 

Menguak Alasan RI Terpaksa Impor Jagung saat Surplus

Menguak Alasan RI Terpaksa Impor Jagung saat Surplus

Dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Jumat (2/11) pekan lalu, pemerintah memutuskan membuka keran impor 100.000 ton jagung untuk pakan ternak. Dari jumlah tersebut, Perum Bulog akan mengimpor sebanyak 50.000 ton di antaranya.

Langkah itu menjadi tanda tanya banyak pihak. Sebab, Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri mencatat produksi jagung untuk tahun ini hampir mencapai 4 juta ton. Bahkan, pemerintah juga telah membuka ekspor jagung sebanyak 380 ribu ton karena produksi tinggi.

Dengan produksi yang tinggi dan telah melakukan ekspor tersebut, namun kenapa pemerintah akhirnya juga membuka keran impor? Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan secara khusus kepada alasan pemerintah membuka keran impor tersebut.Amran mengungkapkan, bahwa memang sejak tahun lalu pemerintah telah menutup impor jagung. Bahkan karena produksi jagung tahun ini yang hampir mencapai 4 juta ton, pemerintah bisa menyelamatkan devisa dari komoditas tersebut hingga Rp 10 triliun tahun ini.

“Nah kemudian ada anomali. Orang tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba meminta impor 50.000. (Jumlah) 50.000 kan tidak ada artinya (bila dibandingkan hasil produksi)” katanya kepada, Selasa (6/11/2018) kemarin.

Amran kemudian menjelaskan sumber permasalahan hingga akhirnya pemerintah memutuskan impor jagung 50 ribu ton. Dia mengatakan, bahwa yang terjadi di lapangan ialah jatah pakan ayam untuk peternak kecil diambil oleh perusahaan besar.

Kenapa bisa jatah jagung untuk pakan ayam peternak kecil diambil? Biasanya perusahaan besar memberi memberi makan ayam ternaknya dengan pakan campuran gandum dan jagung.

Karena gandum merupakan komoditas impor, maka harga gandum saat ini cukup tinggi karena nilai tukar dolar terhadap rupiah yang mencapai hampir Rp 15 ribu.Karena harganya yang tinggi, maka akhirnya perusahaan peternak besar tidak mengimpor gandum dan memberi pakan ayamnya dengan jagung murni produksi lokal. Perusahaan besar tak mau lagi menggunakan impor gandum, padahal Kementan telah memberi rekomendasi impor gandum 200 ribu ton.

Selama ini peternak kecil juga menggunakan jagung untuk pakan ayam ternaknya. Namun, karena perusahaan besar kini tak lagi mencampur gandum untuk pakan ternaknya, maka mereka akhirnya memborong jatah jagung yang lebih banyak dari pasar. Sehingga, peternak kecil tak kebagian jatah jagung. Kalau pun ada, harganya sudah tinggi untuk mereka.

“Jatah peternak kecil ini diambil, memilih mengambil jatah peternak kecil dari pada mengimpor gandum. Gandum ini untuk campuran pakan, gandum pakan ya bukan gandum pangan,” kata Amran.

Amran sendiri tak mau menyebut perusahaan besar mana yang dimaksudnya. Dia hanya mengatakan, bahwa ada dua perusahaan di bidang peternakan ayam yang mengambil jatah jagung untuk peternak kecil.

Sementara itu, diketahui di Indonesia ada sejumlah perusahaan besar di sektor peternakan ayam. Misalnya ada Charoen Popkhand, Japfa Comfeed, Cipendawa Farm, hingga perusahaan besar lainnya.

Oleh karena hal itu, maka pemerintah akhirnya memutuskan untuk impor jagung sebanyak 50 ribu ton. Sebab, perusahaan-perusahaan besar yang tidak disebutkan namanya itu sudah termasuk melakukan kegiatan menimbun pangan.

Amran juga mengatakan, bahwa jagung yang diimpor ini nantinya akan disimpan digudang milik Bulog. Jagung ini tidak langsung dilepas ke pasaran karena hanya sebagai pengendali harga dan agar perusahaan besar tak lagi mengambil jatah jagung milik peternak kecil.

“(Jadi) manakala pergerakan harga turun, jagung impor tidak dikeluarin oleh Bulog,” tutur Amran.