Budaya Cokelat di Indonesia, dari Mana Asalnya?

Budaya Cokelat di Indonesia, dari Mana Asalnya?

artikelmajalah

Artikelmajalah Suku Maya diketahui sebagai komunitas pertama yang mengolah biji kakao menjadi minuman cokelat. Bersamaan dengan menemukan benua Amerika, penjelajah Christopher Columbus juga menemukan tanaman kakao. Namun penjelajah yang menyadari nilai biji kakao sebenarnya adalah Herman Cortez. Cortez yang disajikan minuman cokelat oleh Suku Aztec di Meksiko kemudian membawa biji kakao ke Spanyol. Dari Spanyol, biji kakao dikembangkan. Tak hanya menjadi minuman di Eropa, melainkan juga jadi hidangan lain. Budaya cokelat lantas berkembang pesat di Eropa, kakao dan cokelat kemudian menyebar ke penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.

Masuk ke Indonesia Menurut Sejarawan kuliner sekaligus Dosen Departemen Sejarah Universitas Padjajaran, Fadly Rahman, di acara Diskusi Media ‘Serba Serbi Cokelat’ dari Mondelez International di Jakarta,, Spanyol yang membawa kakao ke Indonesia.
Pada 1560, Spanyol membawa cokelat ke Filipina, negeri koloninya, kemudian dari Filipina menyebar sampai ke Minahasa (Sulawesi Utara). Jenis kakao yang masuk pertama kali ke Indonesia adalah Kakao Criollo dari Venezuela. Saat itu Venezuela yang juga menjadi koloni Spanyol menjadi penghasil kakao terbesar di dunia. Venezuela memasok setengah biji kakao di dunia. “Saat itu Belanda masih fokus ke tanaman kopi dan teh,” jelas Fadly. Baru ketika tanaman kopi dan teh rusak akibat penyakit, Belanda mulai beralih fokus untuk membudidayakan kakao pada 1880. Belanda membudidayakan jenis kakao Forastero yang juga berasal dari Venezuela.

Sampai 1938 ada 29 perkebunan kakao di Hindia Belanda, yang pada akhirnya setelah merdeka perkebunan kakao dinasionalisasi menjadi milik negara Indonesia. Budidaya kakao dan budaya cokelat berkembang pesat di Indonesia pada abad 19 dan 20. Sebab pada abad ke-20, Fadly menjelaskan ada kepercayaan di Hindia Belanda bahwa minum cokelat dapat meningkatkan kesehatan. “Kalau dilihat dari iklan-iklan zaman dulu, cokelat lebih identik sebagai minuman daripada camilan seperti sekarang. Cokelat juga menjadi simbol dari status sosial,” jelas Fadly.

Ia memperlihatkan iklan dari merek cokelat produksi Amsterdam ‘Tjoklat’. Tampak seorang perempuan Melayu berkemben dan bersanggul duduk bersimpuh mempersembahkan sebakul buah kakao. Iklan tersebut disebutkan Faldy membuktikkan bahwa cokelat menjadi simbol status sosial. Pada masa kolonial juga, Indonesia pernah menjadi salah pemasok kakao terbesar di dunia. Dari merek Tjoklat saja, ada 63 juta cokelat batangan diproduksi per tahun. Nama merek ‘Tjoklat’ juga diambil dari Bahasa Melayu, asal dari kakao Hindia Belanda.

Pasca kemerdekaan, aneka merek cokelat lokal berkembang di Tanah Air. Cokelat lantas tak hanya dapat dinikmati kaum elit, tetapi semua kalangan masyarakat hingga saat ini. Tentunya dengan berbagai varian harga yang sesuai dengan komposisi cokelat. Selera cokelat juga berganti bentuk sejak era tersebut, dari yang tadinya cairan diminum kini menjadi camilan yang dikunyah. Sampai saat ini Indonesia menjadi pemasok biji kakao ke tiga terbesar di dunia dan terkenal dengan kualitas kakao unggulan. Namun konsumsi cokelat masyarakat Indonesia terbilang rendah, hanya 500 gram per kapita, setiap satu tahun. Budidaya kakao kurang diminati petani Indonesia karena dilihat kurang menguntungkan, padahal ada manfaat kesehatan dalam konsumsi cokelat dan tentunya dampak ekonomi dari hulu ke hilir.